Komitmen untuk berpasangan seumur hidup tidak semudah yang dibayangkan. Karena dibutuhkan pengertian dari kedua belah pihak. Dan memang, setiap pasangan itu unik. Tidak bisa disamakan dan tidak boleh melihat pasangan lain lebih baik dari pasngan kita sendiri ya bunda... ^^
Sebagai contoh, ada tipe suami yang sangat membantu kembali dalam setiap kegiatan bunda di rumah, sampai dalam hal mengganti popok dan memasak juga ada ayah yang dengan senang hati melakukannya tanpa sang bunda yang meminta. Keren!
Dan ada juga suami yang sangat cuek, tidak peduli akan urusan "rumah". Suami tipe ini hanya tahu beres saja. Hehhehee..tapi jangan diceritakan lagi ke orang lain ya bunda, sssttt,,,rahasia loh ini..
Setiap pasangan mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda, tidak bisa disamakan dengan satu dan yang lainnya. Mungkin hal ini (kebiasaan) disebabkan karena mengikuti tradisi dari suatu suku/adat yang dibawa dari suku masing-masing dari bunda ataupun suami.
Untuk para wanita yang akan menikah, perlu diingat kembali bahwa pernikahan di Indonesia adalah tentang pernikahan dua buah keluarga besar. Jika ingin menikah, perlu ditinjau lagi dengan toleransi adat dan kebiasaan masing-masing keluarga.
Mengapa komunikasi ini penting dalam suatu hubungan bersama pasangan, terutama yang sudah menikah? Karena semua hal yang berhubungan dengan komunikasi ini sangat penting dan merupakan dasar dari segala hal.
Dari awal mula pertemanan sampai ketika memutuskan untuk menghabiskan waktu hidup bersama bersama pasangan, hal mengenai komunikasi amatlah penting. Jika sesuatu terjadi di luar itu, dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, cobalah untuk berusaha mencari solusi dengan berkonsultasi.
Konsultasi pertama yang bisa dilakukan adalah dengan keluarga terdekat, terutama orangtua. Tetapi mungkin pandangan orangtua atau keluarga masih bersifat subjektif. Bukan mencari siapa yang salah dan benar, hal ini hanyalah untuk mencari jalan tengah dan solusi. Apalagi jika anak terlibat di dalamya. Dan orang luar, bisa juga psikiater/penasehat perkawinan bisa menjadi solusi untuk mencari jawaban yang objektif.
Bunda, sang suami mungkin adakalanya ingin diperhatikan lebih, lebih dari bunda memperhatikan anak. Tidak bisa dipungkiri bahawa sebagai wanita, sebagai bunda, kita berpikiran bahwa kitalah yang seharusnya di manja dan disayang dengan kadar yang lebih dari biasanya. Apalagi jika menjadi wanita karier, yang kesehariannya sudah dipenuhi pikiran tentang pekerjaan, batas waktu yang diberikan atasa, dan hal lainnya. Sehingga, ketika di rumah, bunda menginginkan hal tersebut dari suami.
Tetapi, suami pun terlebih lagi. Mereka ingin ada perhatian yang ekstra lebih dari bunda. Karena hanya dengan bundalah mereka bisa melepaskan lelah dan penat setelah seharian dipenuhi dengan segala hal yang menyebalkan di kantor.
Apalagi dengan kondisi tuntutan pekerjaan dan lalu lintas Jakarta yang semakin tidak terprediksi kapan tidak macetnya jika sudah tiba waktunya pulang kantor. Sehingga, waktu bersama pasangan setiap harinya berkurang karena bunda dan pasangan lebih banyak menghabiskan waktu masing-masing di jalan raya.
Nah, sekarang cobaaa..berapa banyak bunda yang masih memanggil pasangan dengan panggilan sayang ketika sebelum menikah? Masih adakah? Wah, jika masih ada dan masih banyak, semoga terus dipertahankan, Jadi, kesannya kan masih pacaran terus bunda.. hihihiii..
Ya, hal ini mungkin terdengar lucu, tetapi hal ini menjadi salah satu cara untuk menjaga keharmonisan hubungan bunda dan pasangan. Dan, sesekali boleh loh bunda ber-sms 'genit' dan 'nakal' pada suami. Jangan malu dong, kan sudah halal kalo sekarang ini.
Predikat "bos/atasan" di kantor harus segera di'copot' ketika bunda tiba di rumah. Dan sebagai istri yang baik, terlepas dari gender dan emansipasi wanita, dan juga sebagai bunda gaul (uhuk), tetap harus selalu menghormati suami, ya bunda..
Hati seorang wanita seperti terbuat dari sesuatu yang terdiri dari berbagai jenis yang bercampur menjadi satu, dan tidak ada formula untuk mengidentifikasi asal dan formulanya seperti apa. Sehingga, dari formula yang tidak teridentifikasi tersebut, para wanita, khususnya para bunda gaul di sini bisa mengatur secara terstruktural dan rapi bagaimana emosi, jiwa dan perasaannya dalam suatu waktu.